Wendy Hidayat WeBlog’s

September 4, 2007

Mengapa kita mencintai Muhammad rasulullah?

Filed under: RODCYSKY ARTIKEL — Wendy @ 3:06 am

Pernahkan Anda merasa prihatin terhadap siswa, atau anak, atau orang lain, yang karena kebodohannya kemudian melakukan hal-hal yang membahayakan dan merugikan diri mereka?

 

Bayangkanlah Anda sedang memperhatikan orang yang Anda sayangi, mungkin anak Anda atau orang tua Anda, lalu Anda mengetahui bahwa orang tersebut karena ketidaktahuannya melakukan hal-hal yang akan membahayakan dirinya. Apa yang Anda rasakan? Tentu Anda prihatin, khawatir, dan gelisah bukan? Anda tentu sangat ingin menolongnya, sangat ingin memberitahunya, bahkan Anda mungkin melarang dengan sekuat tenaga untuk mencegahnya melakukan hal-hal yang salah.

 

Sekarang bayangkan Anda menjadi sosok orang yang sedang diperhatikan tersebut (mungkin Anda ingat lagi dulu sewaktu kecil dan sedang diawasi oleh ibu Anda). Bayangkan bahwa saat itu Anda sedang diperhatikan, dijaga, dan dicintai, namun Anda tidak sadar. Anda sebenarnya sedang dibela mati-matian oleh orang yang begitu tulus mencintai Anda, berani membanting tulang untuk menghidupi Anda, menyuapi, merawat, dan bahkan membela dengan resiko pengorbanan jiwa demi membela Anda. Namun, sekali lagi, Anda tidak tahu betapa ada orang lain sungguh-sungguh mencintai dan membela Anda. Anda tidak tahu. Sampai suatu saat …, ketika Anda sedang sendiri, ketika Anda mungkin sedang gelisah dan sedih, ketika mungkin Anda sedang jauh dari orang itu, atau ketika orang itu tak lagi dapat Anda temui karena telah meninggal, tiba-tiba.. ya tiba-tiba Anda menyadari bahwa selama ini orang tersebut telah membela Anda dengan seluruh jiwa raganya, orang ini telah diam-diam terus mendoakan agar Anda selamat dan berhasil, orang ini diam-diam telah mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk Anda. Maka, Anda akan mulai merasakan betapa mengharukan apa yang telah beliau perbuat itu demi melindungi Anda. Anda akan rasakan bahwa cintanya yang tulus itu sungguh amat sangat mulia. Anda terharu. Kalau Anda rasakan betul betapa baiknya orang tersebut kepada Anda selama ini, maka air mata Anda akan menetes saat mengenangnya.

 

Seribu empat ratus tahun lalu, ada seseorang yang oleh Tuhannya telah dibukakan tabir gaib kehidupan di alam semesta ini. Orang ini telah melihat hal-hal yang tidak dilihat manusia lain. Orang ini telah mengetahui apa yang tak diketahui orang lain. Kemudian, karena kelembutan hatinya, orang ini dengan keprihatinan yang tinggi ingin agar orang lain pun melihat apa yang telah dilihatnya, ingin agar orang lain tahu apa yang telah diketahuinya, ingin agar orang lain merasakan apa yang telah ia rasakan. Demikianlah orang ini, Muhammad rasulullah, kemudian berjuang mati-matian dengan resiko seluruh jiwa raganya untuk menyampaikan kebenaran. Dia orang yang terpandang, dia orang yang kaya, tapi dia tinggalkan semua itu demi cintanya kepada manusia lain. Dia alami penderitaan hebat selama bertahun-tahun demi cintanya untuk membela manusia lain, kita semua. Dia tidak minta imbalan dari kita, bahkan tidak juga ucapan terimakasih Ketulusan beliau ini murni dari kecintaan kepada kita semua. Itulah Muhammad rasulullah, orang yang telah membaiki kita, yang telah mendoakan kita, yang telah membela kita semua, baik kita sadar ataupun tidak. Bagaimana mungkin kita tidak terharu atas kebaikan orang ini? Bagaimana mungkin kita abaikan ketulusan cinta orang ini? Bagaimana mungkin kita sepelekan apa yang beliau lakukan untuk membela kita ini? Demikian baiknya orang ini. Ketika kita sampaikan terimakasih kita atas beliau melalui doa shalawat untuk beliau, maka saat itu pula jutaan malaikat ganti mendoakan kita. Doa shalawat kita itu seakan menjadi sepercik sinar lilin, yang kemudian dipantulkan kembali menjadi cahaya matahari! Bahkan ketika beliau sudah meninggal pun, kebaikan beliau masih terus tercurah kepada kita. Subhanallah.

 

Sungguh mulia insan Muhammad, sungguh baik beliau ini. Semoga Allah karuniakan keselamatan dan kebaikan atas diri beliau. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa ‘aali Muhammad.

 

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.