Wendy Hidayat WeBlog’s

September 4, 2007

Tukang becak naik haji : kisah Wahid yang cerdas finansial

Filed under: RODCYSKY ARTIKEL — Wendy @ 3:09 am

Wahid (56), penarik becak yang biasa mangkal di kawasan Gunung Pereng, Kec. Cihideung, Tasikmalaya, bersyukur mampu menunaikan haji bersama istrinya Siti Hujaenah pada tahun 2004.

“Saya merasa bersyukur, karena dari hasil cucuran keringat ini bisa naik haji dan menyekolahkan anak, kata haji Wahid saat ditemui di Terminal Bus Tasikmalaya, demikian dituturkan Pikiran Rakyat.

Wahid mulai menarik becak tahun 1972 di Gunung Pereng. Sejak awal Wahid bertekad memiliki becak sendiri, maka dia mencicil becak secara kredit Rp 150,00/hari. Tentunya jumlah yang cukup besar waktu itu. Cicilan itu dia bayar kurang lebih selama setahun. Lunas membayar becak, Wahid mulai membeli tanah buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang malam dan kedisiplinannya dalam mengelola uang maka ia mampu membeli tanah dan membangun rumah.

Usai memiliki rumah Wahid kembali mengambil cicilan becak. Becak itu kemudian dia sewakan kepada rekan lainnya. Ternyata hasilnya lumayan. Dari 1 becak sewaan itu Wahid terus menambah hingga kini memiliki 40 becak! Sebanyak 25 becak disewakan dengan tarif Rp 4000,00/hari. “Sisanya saya kreditkan kepada orang lain,” ujarnya.

Walau tidak sekolah maupun membaca buku, Wahid cukup cerdas finansial. Setelah becaknya bertambah, ia akhirnya mendirikan kamar kontrakan di daerah Gunung pereng, Kota Tasikmalaya. Saat ini ada 25 kamar kontrakan dengan sewa Rp 85.000,00/bulan. “Lumayan untuk menambah penghasilan,” katanya. (Jelas lebih dari lumayan, ini berarti Wahid punya passive income hingga 2,125 juta per bulan. Ini hebat karena hanya sedikit orang yang memiliki’kemewahan’ seperti ini.)

Wahid punya cita-cita naik haji. Sejak punya dua becak Wahid sudah mulai menabung agar bisa naik haji. Tak ada target harus berapa besar tabungannya terisi setiap bulan, Wahid hanya menyisihkan uang dari hasil usahanya setelah digunakan untuk makan serta kebutuhan sehari-hari. Setelah menabung 30 tahun, akhirnya Wahid dan istrinya bisa naik haji tahun 2004. (Subhanallah, niat mulia yang disertai ketetapan hati sungguh akan mendapat bantuan dari Allah.)

Wahid juga berhasil memberikan pendidikan yang cukup kepada 3 anaknya. Si sulung lulusan Diploma 2. Adiknya lulusan SMA. Yang bungsu masih SMA.

Hingga sekarang Wahid masih mengayuh becak. Sehari kadang mendapat Rp 10-20ribu. Kadang sama sekali kosong. tapi semua itu dijalaninya dengan kesabaran, keuletan, dan kerja keras.

Kisah nyata haji Wahid itu menunjukkan bahwa sukses secara finansial tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, namun oleh disiplin dalam mengelola uang dan adanya tujuan cita-cita yang jelas. Pelajaran yang menarik dari kisah ini :

  • Wahid ingin mempunyai alat produksi sendiri (becak) karena itu dia bersedia untuk menunda berbagai kesenangan demi mendapatkan alat produksi (mendahulukan aset)
  • Selanjutnya ia menyimpan hartanya dalam bentuk yang paling manfaat yaitu rumah untuk keluarganya. Hal ini menimbulkan ketenangan batin dan meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berusaha. (mengamankan kebutuhan dasar)
  • Setelah hal paling dasar dipenuhi, Wahid menambah jumlah alat produksi dengan memperbanyak becaknya, dan menyewakannya kepada orang lain. (meningkatkan penghasilan melalui bisnis, sebuah sistem usaha penyewaan becak)
  • Hasil usaha kemudian diamankan dalam bentuk kamar kontrakan yang memberikan penghasilan. (mengubah kekayaan menjadi aset pasif income melalui real estate)
  • Wahid dengan kesungguhan senantiasa membela cita-citanya, seperti punya becak sendiri, punya rumah, beli lebih banyak becak, punya kontrakan, menyekolahkan anak, naik haji. (kejelasan cita-cita untuk kesejahteraan jangka panjang, mengalahkan kesenangan jangka pendek)

Kita perlu belajar kepada Haji Wahid ini.

 

6 Comments »

  1. Aku terkeima banget dengan tulisan anda yang mau saya tnykan yaitu:Apakah itu kejadian nyata?dan kalau boleh tau saya mau lihat fotonya pasti bersahaja,&sederhana banget

    Comment by andy15 — December 6, 2007 @ 4:55 am | Reply

  2. Yang saya tanyakan apakah ini kejadian nyata?terus kalau kejadian nyata punya fotonya tidak pasti bersahaja banget

    Comment by andy — December 6, 2007 @ 5:21 am | Reply

  3. Maaf ya mas saya baru sempat buka blog WP saya,
    Begini mas, kejadian ini adalah nyata, saya dapatkan kisah ini dari teman saya yang kebetulan bertetanggaan dengan Pak Wahid.

    Untuk masalah foto, Saya akan coba hubungi teman saya ini untuk mendapatkan gambar Pak Wahid.

    Comment by rodcysky — December 31, 2007 @ 6:30 am | Reply

  4. Hmm … semangat dan tekad bapak ini sangat kuat sekali, aku juga mau seperti Bapak itu ah.

    Comment by Rayyan Sugangga — January 8, 2008 @ 9:46 am | Reply

  5. Aku percaya dengan apa yang diutarakan oleh pak wahid. Sebab aku undah mencobanya selama hampir 2 tahun dan Insya Allah saat ini aku udah mempunyai 8 buah becak dan berniat akan menambah 2 becak lagi bulan maret 2009. Terus mencoba n yakin

    Comment by dial — January 5, 2009 @ 8:37 am | Reply

  6. Betapa maha kuasanya Tuhan, ya

    Comment by Anwar Ashari — April 3, 2009 @ 5:50 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.