
Sejak pertama kali punya ha-pe sampai sekarang saya masih tetap menjadi pelanggan setiap PT. Indosat (dahulu Satelindo). Saya memakai kartu SIM IM3 milik Satelindo yang pra-bayar. Dan saya pernah berfikir untuk memakai kartu pasca-bayar seperti matrix atau sejenisnya, kerena yang saya tahu pasca-bayar itu lebih murah tarifnya dan juga ngga repot harus cari-cari pulsa (pernah juga disaranin sama mas fran buat ganti ke pasca-bayar :) ).
Katanya di luar negeri, pelanggan pasca-bayar benar-benar dianggap layaknya seorang raja, selain tarif pulsanya nya yang lebih murah, fasilitas-fasilitas yang bagus dan lengkap juga disediakan bagi pelanggannya. Tetapi kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi di negeri kita Indonesia, kartu pra-bayar menjadi hidangan yang menggiurkan bagi perusahaan-perusahaan telekomunikasi misalnya, PT. Indosat, PT. Telkomsel, PT. Excelcomindo maupun sejenisnya. Dan tentu saja yang menjadi target pasar utamannya adalah masyarakat atau khalayak menengah ke bawah yang ingin membatasi pengeluarannya walaupun ada segelintir persen masyarakat kelas atas yang juga menggunakannya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi malah tarif untuk kartu pra-bayar ini jadi lebih murah! Tidak tanggung-tanggung, tarif SMS pra-bayar IM3 dan Matrix misalnya bisa beda 100% atau bahkan 7,5 kali lebih mahal jika dengan voucher khusus.
Studi kasus :
SMS : Selain keuntungan pasca-bayar adalah tidak perlu repot untuk mencari pulsa, biaya terbeban kepada operator per pengeriman satu SMS hanyalah Rp 75. Salah satu operator telekomunikasi (……) memaksa pengguna pasca-bayar untuk membayar biaya 4 kali lebih mahal dari seharusnya. Sementara pra-bayar dikenakan tarif setengahnya.
GPRS : Layanan internet, untuk Tarif Matrix untuk GPRS adalah Rp 5/KB. Sementara IM3 hanya Rp 1/KB!
Kalau dipikir secara seksama perusahaan telekomunikasi di Indonesia benar-benar menelantaran salah satu kelompok para pelanggannya yang setia, pengguna pasca-bayar. Karena tanpa di sadari para pelanggan pasca-bayar ini turut menyumbang revenue lebih banyak dari pelanggan pra-bayar yang hobi dengan gonta ganti kartu.
Sebagai gambaran dan perbandingan saja, tapi saya tidak bermaksud untuk tidak menghargai para pelanggan pra-bayar karen saya pun termasuk salah pelanggan pengguna kartu pra-bayar di Indonesia, bahwa :
Kalau di negara selain Indonesia, pelanggan yang setia seperti pelanggan pasca-bayar selayaknya di service dengan baik sebagai balas jasa telah percaya kepada penyedia jasa tersebut. Tetapi di Indonesia, negara yang semuanya serba terbalik, pelanggan pasca-bayar diperlakukan layaknya sebagai SAPI PERAH!
Apakah anda sependapat???