15 Januari 2008
Kupandangi jam yang terpaku di dinding disebelah kiri atas tempatku duduk bekerja sudah menunjukan pukul 16.55 WIB, kuperhatikan pekerjaan yang ada di komputer didepanku sudah mengisyaratkan untuk break. Suasana sore kota Jakarta kupandang dari atas gedung D Bank Indonesia kembali mulai terserang musibah bencana alam Macet, suasana ini menambah semarak kota Jakarta yang tiada matinya.
Diikuti dengan detik jam yang semakin berlari meninggalkan sore akupun berkemas membersihkan meja kerja menuju kost-kostan yang ada di daerah kebon kacang yang menjadi base camp kami ketika kami harus stand by bekerja di jakarta.
Seperti biasanya sebelum sampai ke tempat kostan aku menyempatkan diri untuk mampir membeli makanan dan cemilan untuk bekal bekerja diwaktu malam hari. Salah satu cemilan favoritku adalah gorengan tempe dan tahu yang dijual di area dekat kostel kebon kacang yang menjadi area tempat base camp kami.
Sesaat kuperhatikan ada sesuatu yang mengganggu pemandangan mataku, tidak seperti biasa aku tidak melihat adanya gorengan tempe dan tahu yang disediakan oleh bapak penjual gorengan. Dengan rasa ingin tahu diikuti dengan dahaga lapar yang cukup besar karena kebetulan sudah 3 hari aku tidak makan gorengan, kuberanikan diri untuk coba bertanya :
Pak, tempe dan tahunnya koq ga ada?
Kemudian si bapak penjual gorengan tersebut menjawab diikuti dengan raut dan nada suara setengah serius dan bercanda :
Tahu dan tempenya lagi pada demo mas,
Kita tunggu aja, nanti kalau sudah selesai demonya tahu dan tempenya akan balik sendiri (si bapak penjual sambil mengekspresikan senyumnya yang terlihat agak dipaksakan)
Sepintas kalau kita perhatikan ungkapan si bapak penjual gorengan tersebut merupakan canda ringan bentuk sebuah kekecewaan dan kepasrahan dengan kondisi yang dihadapinnya.
Tidak hanya bapak penjual gorengan saja yang mengalaminya, bapak dan ibu-ibu penjual warung nasi padang dan warteg di pelataran seberang jalan kantor BI pun ikut menjadi sepi dengan suasana sajian tahu tempenya.
Sebenarnnya apakah yang sedang terjadi dengan tahu??
Bagaimanakah keadaan sang tempe??, dan
Kemanakah perginya sang kedelai??,
Sang kedelai yang dulunya bersahabat dengan orang-orang kecil kini malah memusuhi dan menjauhi mereka.
Apakah ini sebuah permainan politik orang-orang yang berkuasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri sehingga mencoba menghalalkan segala cara walaupun harus mengorbankan rakyat kecil?
Ataukah memang negeri kita ini yang sudah terlalu miskin dengan kebutuhan pokok dan hasil perkebunannya sehingga mengharuskan kita untuk bergantung dengan negara lain??
Hanya………yang tahu.
Kita hanyalah orang-orang kecil layaknnya teh botol* yang selalu menjadi sajian terakhir dari hidangan-hidangan yang enak-enak buat sang penguasa.
* Inget sama Mas Alfa