24 January 2008
Minggu pagi setelah melakukan kewajiban aktivitas rutin di dojo (tempat latihan) langsung meluncur ke tempat kostan, seperti biasa dalam perjalanan menuju kostan saya melakukan ritual tahan nafas alias tutup hidung, bukan karena suatu keharusan melainkan sebuah kewajiban (hala hala….., sok puitis) karena harus melewati kumpulan sampah yang ada di dekat pasar yang kebetulan posisinya berada di pinggir jalan menuju kostan.
Kebersihan adalah sebagaian dari iman, kalimat ini sudah sangat familiar sekali kita dengar bahkan saking familiarnya kita sampai lupa bahkan tidak tahu dari manakah sumber dan makna yang terkandung didalamnya.
Selidik punya selidik ternyata kalimat tersebut bukan hanya sekedar slogan biasa tetapi dikutip dari pernyataan Nabi Muhammad SAW seperti yang tercantum di dalam hadist.
Al Quran juga menyebutkan bahwa :
“Allah mencintai orang-orang yang bersih, artinya orang-orang yang beriman dan percaya kepada Allah seharusnya selalu menjaga kebersihan”.
Bersih yang dimaksudkan dalam Al Quran dan Hadist tersebut tidak terbatas pada kebersihan yang terkait dengan ritual ibadah, seperti whudu atau mandi melainkan juga kebersihan lingkungan secara umum termasuk kebersihan kamar mandi atau toilet.
Budaya bersih ini memang masih kurang di kalangan masyarakat kita. Negara-negara sekuler, seperti AS dan Negara-negara Eropa lain justru sudah menerapkan budaya bersih sesuai dengan ajaran islam. Tetapi sangat disayangkan sekali, kita yang justru mayoritas masyarakatnya adalah Islam malah kurang memperhatikan masalah kebersihan ini.
Masih rendahnya kesadaran kebersihan masyarakat Indonesia bisa dilihat dari joroknya toilet-toilet umum di negeri ini.
Dalam kultur Indonesia, toilet disebut dengan istilah kamar kecil, atau kamar belakang. Itu sudah menunjukan bahwa toilet itu sesuatu yang tidak penting, masyarakat kita menganggap WC/toilet itu tidaklah harus bersih.
“Kebersihan toilet menunjukan kultur suatu bangsa, maka masalah kebersihan toilet pun adalah masalah kultural”
Mengubah budaya memang tidak bisa dilakukan dalam sehari, namun kebiasaan buang air yang terkait dengan kebersihan toilet dan lingkungan itu bisa dirubah. Sebagai contoh, Singapura yang dulunya sangat jorok sekali dengan toiletnya, bisa mengubah budaya masyarakatnya dengan aturan tegas dan ancaman denda yang tegas pula tanpa harus pandang bulu karena jika pandang bulu maka yang keenakan golongan yang banyak bulunya yang tidak lain adalah (monyet / orang utan).
Contoh lain adalah Cina, pemerintah Cina rajin mengkampayekan budaya bersih dalam buang air sebagai salah satu persiapan menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Sampai sopir taksi di Beijing bias bilang “if you don’t have a clean toilet, you don’t have future”, Jika kamu tidak mempunyai toilet yang bersih, maka kamu tidak mempunyai masa depan.
Dari sudut pandang apapun, Orang, Masyarakat maupun Negara yang jorok tidak akan mempunyai masa depan.